Minggu, 12 Mei 2013

Cerita apa ini aku pun tak tahu :$


          Author : Rintania F
        Mall hari ini memang tidak terlalu ramai. Memang karena hari ini adalah hari Selasa dan bukan pula tanggal merah. Aku pun berkeliling sendirian di mall. Aku ini sebenarnya masih duduk dibangku SMA, dan kenapa anak SMA ada disini padahal hari ini bukan hari libur? Yap ! Itu karena aku ini anak kelas 3 yang sedang menunggu hasil kelulusan bulan depan. Daripada bĂȘte di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan sendirian.
Tempat pertama yang aku kunjungi di mall adalah toko buku. Karena aku sangat senang membaca novel. Siapa tau ada novel yang membuatku tertarik. Saat sedang keliling mencari buku, tiba-tiba ada yang membuatku tertarik! Oh tidak! Bukan novelnya yang membuatku tertarik, tapi seorang lelaki yang tinggi tegap sedang berdiri sambil membaca komik. “omo! Kerennya!!” seruku tanpa sadar. Tiba-tiba terpikirkan sesuatu untuk bisa dekat dengannya. Aku pun segera membawa banyak buku-buku yang ada di rak dengan asal dan berniat untuk melewati lelaki yang sedang berdiri didepan rak komik sambil membacanya. “Okey, misi dimulai!!” seruku dalam hati sambil menggerak-gerakan halis dan tersenyum bangga akan ideku yang cemerlang. Hoho.  :3
Aku segera berjalan menuju lelaki tampan itu sambil membawa buku yang banyak. Sudah dekat dan segera ku senggolkan lenganku padanya seakan-akan tak sengaja dan, “bruuk!” ah! Buku-buku yang kubawa berjatuhan! Hehe, memang itu rencanaku >.<  “eh, sorry. Sini gue bantu. Lo ga apa-apa kan?” tanyanya sambil membereskan buku-bukuku yang berjatuhan, “eh, ga apa-apa kok. Udah ga apa-apa biar gue aja yang beresin,” kataku padahal itu cuma basa-basi doang. Wkwk ._. “udah ga apa-apa gue bantu. Ini juga salah gue,” katanya ramah. Omo! Senyumnya itu….manissss bangeeetttt….
Kami pun selesai membereskan buku-buku yang tadi berjatuhan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku pun langsung so akrab dengannya, “btw, sendiri aja lo?” kataku sambil menampilkan senyum manisku, siapa tau dia langsung jatuh cinta. Hahaha #ngarep. “Eh engga kok, gue…”belum selesai dia bicara tiba-tiba, “hey sayang! Kamu kemana aja? Aku cariin kamu tau daritadi. Eh taunya ada disini,” kata seorang cewek cantik berpenampilan yaa rumayan seksi dibanding penampilanku yang ‘agak culun’ niatnya sih mau berpenampilan so gaul. Tapi, apa daya culun ya tetep aja culun. Hiks. Eh tunggu ! tadi apa? Sayang? Berarti…”eh, iya maaf sayang. Aku disini aja baca komik, oya, tadi lo nanya gue sama siapa? Nih gue sama istri gue, namanya Farah,” katanya padaku. MWO? Tadi bilang apa? Istri? Aku pikir dia itu pacarnya. Kok? Dah nikah ternyata? Ahh! Daripada aku jadi orang ketiga, mending aku kabur aja, “oh iya salam kenal, eh gue kesana dulu ya! Cowo gue dah nungguin,” kataku pamit sambil meninggalkan mereka. Cowo gue dah nungguin. Padahal aku sendirian. Hiks. Bohong dikit ga apa-apa kali ya supaya rada keren dikitlah. Ups! Keingetan nih buku, padahal aku pinjem cuma buat supaya akrab sama tu cowo tapi gagal maning. Harus segera simpen nih ke tempat semula sebelum disangka mau aku beli. Ludes deh duitku kalau nih buku dibeli semua. Karena terlanjur ilfeel sama kejadian tadi, akhirnya aku pun keluar dari toko buku itu. Fiuhh! Apes dah! ~~~
~o~
Buset dah belum juga dapet buku yang aku pengen, eh keburu ada tragedi. Oke deh. Tempat mana lagi yang harus aku datangi aku pun tak tahu. Akhirnya aku lanjut keliling-keliling dulu saja. Saat sedang berkeliling, tiba-tiba terdengar alunan musik yang tak asing bagiku, “sorry sorry sorry naega naega…” ah! Itu adalah lagu favorite yang aku suka dari boyband Korea Super Junior! Wah! Aku pun melihat darimana asal lagu tersebut, dan ternyata okey, dari salah satu tempat penjualan accessories yang serba pink. Aku pun segera berjalan menuju tempat tersebut. Bukan untuk membeli , tapi untuk mendengarkan lagu favoriteku sampai habis hahaha. xD Supaya tidak terlalu menyirikan kalau aku dateng ke tempat ini cuma buat dengerin lagu favorite doang, akhirnya aku sambil melihat-lihat accessories yang ada disana. Saat sedang lihat-lihat, tanpa sengaja aku menyenggol pigura sampai jatuh! AHH! Apalagi lagi ini….dan piguranya pun pecah! “ottokae!!” kataku cemas. Lagu tadi pun sudah selesai dan saat ini aku malah terkena masalah, “mbak, maaf. Mbak harus ganti rugi,” kata salah seorang pelayan, “iya iya mbak tauu!!” kataku emosi. Padahal mah udah mecahin aku malah emosi hehe. Biarin ah daripada nampilin ekspresi malu! Jadi rada galak dikit gapapa lah. Hufff. Terpaksa uang selembar 20 ribuan aku keluarkan. Belom juga belanja, duit sebagian dah ludes tanpa mendapatkan yang diinginkan! Hahh! Apa ini karma gara-gara punya niat jahat buat cuma dengerin musik doang ketimbang beli barangnya? Ckck cape deh!
~o~
Tak terasa aku sudah berkeliling mall selama sejam. Tubuhku pun melemas, tenagaku hilang, dan tenggorokanku kering. Perut pun tak berhentinya menyanyi. Okey, ini pertanda bahwa aku harus menginjakkan kakiku ke suatu tempat dimana terdapat makanan lezaaat :9. Ada tempat makan yang membuatku tertarik dimana itu adalah tempat makanan ala Korea. Okay, langsung saja aku masuk dan mencari tempat duduk yang dekat tv nya biar bisa sambil nonton tv gratis. Kkkkk~ “annyeong hasseyo, silahkan mau pesan apa, mbak?” tiba-tiba datang seorang pelayan wanita sambil memberikan selembar menu kepadaku. Dengan gaya so iyeh belaga belagu gitu, aku pun langsung memesan, “em, saya pesan….ramyeon deh sama…lemon tea nya aja,”  hehe sudah so belagu gini aku hanya memesan sedikit. Atulah please…duitku….tadi sudah dipakai ganti rugi akibat tragedi yang amat memalukan, ckck -,- . “baik, mbak,” katanya lalu berlalu. Saat sedang menunggu, tiba-tiba kulihat seorang lelaki yang tak asing bagiku, “omo! Itu kan gebetan gue disekolah! Yang udah PHP-in gue!,” kataku spontan dan sedikit emosi. Dia juga ingin makan di tempat ini dengan pacarnya. Ckck! Tak bisa dibiarkan!! :@  Aku pun segera menutup mukaku dengan selembar menu yang diberikan pelayan tadi yang sepertinya tertinggal disini. “Aigooo….kenapa dia duduk dimeja depan gue sih?” kataku dalam hati sambil menahan emosi yang membara dalam jiwa. #lebay. “eh sayang kamu mau pesen apa?” tanyanya pada pacarnya. Sepertinya mereka memulai obrolan mereka. Aku harus segera memasang kuping kelinciku untuk mendengarkan percakapan mereka siapa tau ada yang menarik perhatianku. “Mbak, bisa lihat daftar menunya?” tanya si Rey, gebetanku itu, “oh iya mas tunggu sebentar,” tiba-tiba si pelayan menghampiriku, “mbak, maaf bisa pinjam menunya?” mampus gue! Gimana gue sembunyinya! “eh iya mbak, nih,” kataku pasrah. Ah ntah apa yang harus kukatakan saat dia melihatku disini sendirian sedangkan dia dengan pacarnya. Huaaa!!! :’(
“Eh? Lo Rinta, kan?” mampus ketawan deh! “eh iya Rey…berduaan aja lo,”kataku sedikit sinis. Gengsi dong kalo aku mesti ramah sama orang yang pernah PHP-in aku! Iuw! “eh,iya ini cewe gue, namanya Febby,” katanya tenang. Hih ! watados banget dia masih aja bisa nyengir tak bersalah. Alamak! “Oh iya,” akupun tak berniat untuk memperkenalkan diri pada pacarnya itu. Akhirnya pesananku datang. Segera aku abaikan tuh si Rey sama pacarnya yang ganjen itu. Tanpa basa-basi, aku tambahkan sambal sebanyak-banyaknya ni ramyeon. “Rin, lo suka pedes banget ya? Banyak banget tuh sambelnya,” kata Rey dan aku pun tak mengindahkannya. Langsung saja aku makan biar tak ada waktu untuk menjawab pertanyaannya. Sepertinya dia sudah tak memperhatikanku lagi. Kulihat sejenak mereka sedang berbincang-bincang dengan mesra. Dan lagi-lagi aku memasukkan beberapa sendok sambal kedalam ramyeonku. Lama-kelamaan lidahku sudah tak tahan menahan rasa pedasnya. Aku segera meminum lemon tea ku sampai habis dan kembali melanjutkan ramyeonku. “Rin? Lo ga apa-apakan? Muka lo nyampe merah gitu?” tanyanya lagi, “udahlah sayang gausah gangguin dia lagi, kasian kayaknya dia lagi patah hati sampe makan pedes sebanyak itu,” kata Febby agak sinis. Sialan tuh cewek. Awas aja ya! “Hahh! Pedes gilaaak! Mbak, minta air segelas!” seruku pada pelayan, “segalon aja, mbak! Mukanya udah kayak yang kebakaran gitu. Haha!” kata si cewek ganjen itu. Itu cewek ngajak ribut aja! Karena ga bisa nahan, aku pun berniat menghampirinya. Eits , sebelumnya, aku bersiap-siap sekalian pulang dan menyiapkan uang pas agar bisa segera kabur. Lah kabur? Yap! Karena aku akan…. “Heh cewek ganjen, apa maksud lo! Rey, sorry ya gue bersikap kayak gini karena gue udah beneran emosi! Rasain nih!” Yess! Aku pun berhasil menyirap kepala si cewek ganjen dengan segelas air minum yang tadi diberikan pelayan padaku. 1..2..3….langsung lari gue sambil ngelewat kasir dan nyimpen uang bekas makan tadi dimeja kasir langsung. Kalo lama-lama disana, bisa tambah kebakar jenggot deh. Ditambah pasti harus ngedengerin omelan si Rey atas sikapku tadi sama ceweknya. EGP lah kalau si Rey marah, toh aku pun marah sama dia yang sudah mem PHP-kan ku. Hiks.
~o~
“AH! Apes banget gue hari ini!” keluhku dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, dari pertama masuk ni mall, udah apes gilaa.. aaa… L“ okay, jangan pikirkan yang tadi. Mending sekarang gue belanja aja dah. Wish me luck ! :’)
Aku segera mengambil keranjang dan mulai belanja sepuas-puasnya. Yippiiii!! Wow! Lagu SPY nya SuJu mengiringi kawasan pusat perbelanjaan membuatku tambah bersemangat. Waaah! Akhirnya bisa tenang juga, ga kayak tadi yang super rempong dah! Woaa! Ambil coklat sebanyak-banyaknya. Oya! Chiki juga..hihi..”wow, kayaknya ni enak buat makan sama nasi,” kataku sambil mengambil nugget ayam special. Besok aku masih libur, daripada bĂȘte, mending masak. Bikin kue ah! Okay, mari kita ke rak tempat bahan-bahan kue. Saat aku sedang melihat-lihat bahan apa yang akan aku beli, tiba-tiba, “terpesona…ku pada pandangan pertama…” itulah soundtrack yang cocok untuk hatiku saat ini. Seorang lelaki muda tampan, berkulit putih muncul disampingku yang baru saja membawa tepung terigu yang ada didekatku. Sejenak ku terpaku. Ups! Sadar Rin!! Awas lo apes lagi kayak tadi!! Okay, langsung ku lupakan kejadian tadi dan lanjut blenjong-blenjong ~
Saat sedang asyik memilih minuman, tiba-tiba kulihat seorang pria yang aku kenal, “Wah gawat! Itu kan pak Yusuf, guru matematika gue! Kayaknya segini aja ah belanjanya. Gue harus cepat-cepat keluar dari swalayan ini!” kataku cemas. Soalnya ya, paling degdegan nih kalau udah ketemu guru ditempat beginian, ditambah aku tuh paling ga bisa basa-basi sama orang tua, apalagi guru sendiri. Ckck. Aku pun segera berjalan mengendap-ngendap supaya beliau tidak melihatku, dan saat sudah berhasil melewatinya, aku pun segera berlari ke kasir. “Nih, mbak. Gausah nanya, saya ga punya member ko mbak!” kataku sebelum ditanya. Biar langsung cepat keluar dari sini takut keburu ketemu sama pak Yusuf. Huff !
“Totalnya Rp.297.000,00 mbak,” buset dah mahal bener! Kulihat dompetku tinggal hanya selembar 100.000. Malu banget sama mbak ini, tapi apa boleh buat, “mbak, hehe maaf nih ATM saya ketinggalan di rumah, dompet saya cuma ada seratus ribu nih mbak, boleh saya kurangi belanjaannya, mbak?” kataku malu-malu. “Hm, yah mbak ni gimana, yauda mbak,” kata pelayan itu mendadak sinis, “makasih, mbak,” saat ku berbalik untuk kembali ke tempat tadi, buset! Jantung mendadak berdetak kencang dan langsung ku tundukkan kepalaku. Tenyata pak Yusuf sedang mengantri dibelakangku! Aku pun segera berlari sambil menundukkan kepala. Untung beliau tak menyadari kehadiranku. Fuihh! Leganya. Oke, swalayan dah aman. Aku pun mengembalikan sebagian belanjaanku ke tempat semula sampai total harganya mencukupi uang yang ku punya. Sungguh hari yang melelahkan.
~o~
“Woaa!! Harusnya hari ini adalah hari yang menyenangkan buat gue sendiri. Tapi kok malah apes dari awal ampe akhir. Okey dah hari ini waktunya pulaaaaang!!!” sedikit jengkel tapi hari ini cukup menghibur. Kalo dipikir-pikir lucu juga hari ini. Dari rencana kenalan sama cowo cakep, mecahin barang toko, ngerjain cewek ganjen, kurang uang saat belanja, ampe menghindari Pak Yusuf!! Hah! Gilaak juga ya aku ini!! Tapi tak apalah. Lalu, aku pun melanjutkan perjalanan pulang dengan naik angkot. Jalan-jalan sendirian itu menyenangkan. “God, thanks for today…” :D

Sabtu, 04 Mei 2013

Pelangi Setelah Hujan

Author : Rintania F

Jam menunjukan sepuluh menit setelah pukul 07.00 WIB. Sasha berlari menuju lorong sekolah barunya. Terlambat. Kata itulah yang kini ada dibenaknya. Sudah seminggu dia menjadi murid baru di SMA Bakti Bangsa. Menjadi murid baru adalah hal wajar bagi gadis berambut ikal itu. Baginya pindah-pindah sekolah adalah bagian dari kehidupannya setelah orang tuanya resmi bercerai. Tepatnya 5 tahun yang lalu. Perceraian orang tua membuat Sasha merasa kehilangan sandaran hidupnya selama ini. Tak ada lagi perhatian, tak ada lagi kasih sayang yang seutuhnya. Kini hidupnya bagai debu yang tertiup angin, siap diterbangkan kemana saja.
Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, Sasha menuju kelas yang akan ia masuki. Kelas XII 3 IPA SMA Bakti Bangsa mendadak hening setelah tampak sosok gadis berseragam putih abu-abu berjaket putih di depan pintu dengan nafas yang tidak teratur. Semua mata tertuju padanya. Rasa heran menyelimuti semua pikiran murid-murid kelas XII 3 IPA, “kamu Sasha siswa pindahan itu?” tanya Pak Andi, guru Biologi yang sedang mengajar. “iya, Pak. Maaf saya terlambat.”jawab Sasha dengan nafas yang masih tak teratur. “Yasudah, silahkan masuk. Besok jangan sampai terlambat lagi !” seru pak Andi pada Sasha dengan tegas. Sasha pun melangkahkan kakinya ke arah bangku yang berada di pojok belakang. Semua pandangan mengikuti arah Sasha sampai ia duduk di bangkunya. Tatapannya penuh dengan rasa tidak suka terhadap Sasha. Murid-murid saling berbisik setelah kehadiran Sasha di kelas. Tapi Sasha yang sadar akan hal itu tidak terlalu mempedulikannya dan segera mengambil headset dan memasangkannya dengan santai tanpa sepengetahuan Pak Andi. 
Bel istirahat pun berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas. Terkecuali Sasha yang sedang asyik mengunyah roti coklat favoritnya sambil mendengarkan lagu, dan Keyla yang sedari tadi sudah memperhatikannya dengan tatapan tajam. Keyla dan teman-temannya segera menghampiri bangku Sasha, “ehm, anak baru katanya kamu sering di D.O ya, kok bisa sih? Sering bolos ya? Ohh ya, maklum, kamu kan anak broken home. Hahaha…” ejek Keyla dan teman-temannya, “sebaiknya kamu berhati-hati, banyak murid yang tidak suka dengan kehadiran kamu disini. Apalagi mereka tau latar belakangmu yang buruk itu!” kata salah satu teman Keyla. Mereka pun tersenyum penuh kemenangan setelah puas mengejek Sasha, dan mereka pun pergi meninggalkan Sasha yang tak merespon apapun. Bukannya tak berdaya, tapi ia malas berhadapan dengan orang yang seperti itu. Sasha hanya memasang tampang heran, karena di dunia ini masih ada orang yang bersikap seperti itu di sekolah yang elite ini. Ia pun kembali tenggelam dalam alunan musik yang sedang ia dengarkan.
Setelah istirahat, tak ada guru yang masuk, karena semua guru sedang melaksanakan rapat. Hari ini kelas penuh dengan bisikan yang tak diharapkan Sasha di sekolah ini. Tapi apa daya, sekarang ia menjadi trending topic dalam gosip hari ini di kelas, “Eh, ko bisa ada sih cewek nakal masuk ke sekolah elite ini. Nyogok pake apaan ya dia, sampe bisa diterima di sekolah elite ini. Jangan sampe deh sekolah kita jadi jatuh karena cewek nakal itu!” sindir Keyla. Teman-temannya pun mengangguk setuju, dan secara tidak langsung mereka mencaci maki Sasha dalam berbentuk sindiran. Akhirnya, Sasha merasa terganggu dengan hal itu, sehingga ia pun meninggalkan kelas dengan raut muka yang berusaha untuk tidak peduli akan semua omongan negatif yang menyangkut dirinya.
Sasha yang sadar akan hal yang dibicarakan oleh teman-temannya di kelas itu memang benar. Ia anak yang broken home, selalu pindah-pindah sekolah akibat sering di D.O dan prestasinya yang menurun drastis sejak saat itu. Padahal, sebelum orang tuanya bercerai, Sasha dikenal sebagai anak yang rajin dan cerdas. Tapi, apa daya semuanya telah terjadi. Kehidupannya sudah jungkir balik. Sekarang ia menjadi anak yang nakal dan pemalas.
Sasha pun segera terbangun dari lamunannya dan tak terasa langkah kakinya telah sampai di taman belakang sekolah. Ia pun memutuskan untuk duduk di taman belakang sekolah tersebut sambil mendengarkan musik dengan headsetnya. Tanpa disadari, ia sedang diperhatikan oleh laki-laki bertubuh tinggi dan wajah yang tampan yang sedang duduk disampingnya. Reyhan, ia terus memandangi Sasha dengan tatapan yang sulit ditebak. Saat Sasha sadari bahwa ia sedang di perhatikan oleh lelaki di sampingnya itu, ia segera balas menatap. Laki-laki itu sudah tak asing baginya. Segera Reyhan melontarkan senyum yang membuat lesung pipinya tampak pada wajahnya. Sasha, tidak membalas senyumannya dan ia kembali memandang lurus ke depan sambil mendengarkan musik dan tenggelam dalam lamunananya. Reyhan, terus menatapnya ”Hai Sha, apa kabar?” tanya Reyhan dengan seulas senyum tulusnya. Sasha pun kembali menatapnya, dan akhirnya ia pun menjawab, ”baik,” sangat singkat, tak lama kemudian ia pergi meninggalkan Reyhan yang masih memperhatikannya dengan penuh rasa khawatir. Hal itu tak membuat Reyhan menyerah, yang ia inginkan adalah untuk bisa dekat kembali dengan gadis yang sudah lama tak berjumpa setelah kejadian lima tahun yang lalu.
Akhirnya waktu pulang pun tiba. Itulah yang ada dalam pikirannya saat ini. Cukup lega karena akhirnya ia tak perlu tutup telinga lagi karena teman-temannya yang tak berhenti membicarakannya dengan terang-terangan. Baru saja  Sasha keluar dari kelasnya, “hai, pulang bareng yuk…” bujuk Reyhan dengan senyum manisnya. Sasha hanya menatapnya heran dan sedikit jengkel. Ia pun tak menghiraukan ajakan Reyhan dan melesat meninggalkan Reyhan yang dipenuhi tanda tanya. Reyhan langsung mengejarnya dan menarik tangannya sampai Sasha tak bisa melepaskan genggamannya itu. Reyhan pun membawa Sasha ke arah parkiran dan menuju motor ninja merah kesayangannya, “hey, apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku !”kata Sasha dengan nada membentak sambil mengerutkan dahi. Reyhan tak peduli dengan ocehan Sasha dan ia segera merebut tas Sasha sehingga Sasha pun akhirnya mengalah dan ikut bersama Reyhan.
Deru mobil dan motor  memadati jalan raya yang dilewati oleh Reyhan dan Sasha. Sedikit kesal karena jalanan macet ditambah udara siang yang menyengat. Tiba-tiba seorang anak kecil menghampiri mereka sambil memegang gitar kecil lalu menyanyikan sebuah lagu. Sasha pun segera mengeluarkan selembar uang kertas seribu dan memberikannya kepada anak kecil, “Terima kasih kak,” kata pengamen cilik itu sambil dengan senyuman yang polos dan kembali ke pinggir jalan, “Liat anak kecil itu harus kerja untuk mempertahankan hidupnya. Kayaknya  dia ga punya orang tua deh, tapi dia tetep ceria, dan yang pasti dia sangat bersyukur walaupun dia harus panas-panasan cari uang,”kata Reyhan sambil menatap lurus, “Maksud kamu? Kamu nyindir aku?”sahut Sasha dengan nada tinggi. Sebelum Reyhan menjawab, Motor sudah terlanjur melaju menuju suatu tempat.
Di ujung jalan setapak yang berliku tampak sebuah bangunan tua yang berdiri kokoh dengan pagar tinggi bercat hitam. Sasha turun dari motornya dengan raut muka yang bingung, “Masih ingat tempat ini?”tanya Reyhan dengan seulas senyum, “masih,” jawab Sasha datar, “maksud kamu bawa aku ke tempat ini buat apa?”tanya Sasha heran. Belum sempat menjawab, Reyhan segera menarik tangan Sasha dan mengajaknya masuk ke dalam bangunan tua itu. Terlihat anak-anak yang sedang bermain di halaman panti dengan ceria, “kamu masih ingatkan dulu kita sering main kesini, selalu mengajak mereka bermain keluar, bahkan kamu selalu memberi mereka semangat dan memotivasikan mereka untuk selalu bersyukur dalam menjalankan hidup meski mereka sudah ditinggalkan oleh orang tua mereka sejak lahir. Bahkan mereka belum pernah merasakan kasih sayang yang sesunggguhnya dari orang tua kandung mereka,”kata Reyhan sambil menatap kagum anak-anak panti asuhan yang sedang bermain dengan ceria tanpa beban. Sejenak Sasha merenungi maksud perkataan Reyhan, tak sadar air mata jatuh melewati pelupuk matanya. Ia sadar, bahwa ia lebih beruntung dari mereka. Masih bisa merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya walaupun kini orang tuanya sudah bercerai. Hanya saja status yang membedakan bahwa orang tuanya sudah bercerai. Hanya berpisah, bukan berarti meninggalkan anak tunggal yang sangat disayangi. Sasha masih bisa merasakan kasih sayang dari orang tua kandungnya hingga sekarang. Lebih beruntung dari mereka.
Sasha segera mengahapus air mata di pipinya saat sadar bahwa ia sedang diperhatikan oleh sahabat kecilnya. Tampak uluran tangan mungil didepannya, “Kak, ayo kita main. Udah lama kita ga main petak umpet lagi,” ajak anak perempuan berambut panjang dengan bandana putih yang menghiasi rambutnya dan memamerkan senyum manisnya, “iya sayang, ayo kita main petak umpet,” balas Sasha dengan ceria. Reyhan senang karena Sasha sudah tak bersedih lagi. Ia pun berlari menuju anak-anak panti yang sedang bermain bersama Sasha dan ikut bergabung bersama mereka. Akhirnya keceriaan itu terlihat dalam raut muka Sasha yang selama ini sudah lama tak terlihat.
Tak terasa mtahari sudah hampir tenggelam. Anak-anak sedang duduk sambil beristirahat di halaman panti asuhan. Mereka semua sekarang sedang kelelahan setelah bermain bersama Sasha dan Reyhan. Tiba-tiba ibu Sinta, pengurus panti asuhan “Kasih Ibu” itu datang sambil membawa nampan dengan gelas berisi jus jeruk untuk mereka, “aduuh,, cape ya yang udah main, ayo semua minum dulu,”kata Ibu Sinta dengan lembut, “makasih,Bu,”jawab Sasha dengan seulas senyum yang sudah lama tak tampak pada wajah manisnya. Sehingga membuat Reyhan senang melihatnya. “Neng Sasha udah lama ya ga main kesini, sibuk ya, Neng,”tanya Bu Sinta dengan ramah, “Iya,Bu. Maaf ya saya baru bisa kesini sekarang. Tapi mulai sekarang saya akan kembali sering datang kesini,”jawab Sasha dengan ramah, “iya, Neng. Jangan sungkan ya kalo mau main kesini, anak-anak sangat senang atas kehadiran kalian.” “Bu, kayaknya kita harus pulang sekarang. Sudah mau malam,”pamit Sasha diikuti Reyhan, “iya, Bu…makasih ya masih mau nerima kita disini setelah beberapa lama kita tak kunjung kemari,”kata Reyhan dengan ramah, “iya ga apa-apa, Nak. Saya sangat senang kalian bisa main kesini lagi.” Sasha dan Reyhan pun berjalan menuju tempat motor yang diparkirkan, “Dek, kakak pulang dulu ya. Besok kita main lagi.”kata Sasha dengan ramah,”Iya kak…besok kita tunggu,” jawab salah satu anak panti asuhan itu. Reyhan mulai menyalakan motornya, dan Sasha melambaikan tangan kanannya kea rah anak-anak panti asuhan dan Ibu Sinta. Motor pun mulai melaju dan akhirnya hilang dari pandangan anak-anak panti asuhan “Kasih Ibu”.
Dalam perjalanan, Sasha dan Reyhan kembali diam seperti sebelum mereka sampai di panti asuhan. “Makasih ya, Rey,” kata Sasha tiba-tiba. “makasih buat apa?” “makasih buat hari ini. Hari yang sangat berkesan.”jawab Sasha dengan seulas senyum yang tulus, “Oh, ga masalah, selama aku masih bisa melihatmu tersenyum bahagia. Jangan sedih lagi ya!”kata Reyhan dengan tulus.
~o~
            Keesokan harinya, Sasha kembali pergi ke sekolah dengan hati yang lega, wajah yang ceria. Teman-teman sekelasnya semua menatap Sasha dengan tatapan heran. “Pagiii semua….”sapa Sasha dengan ceria. Semua teman-temannya sontak semakin bingun dengan sikap Sasha yang sangat berbeda. Tapi, mereka pun sebagian membalas sapaannya dengan ramah. Sepertinya, dengan  sikap Sasha sekarang yang lebih ramah dan tulus membuat rasa benci teman-temannya terhadap Sasha sebelumnya berkurang. Reyhan yang memperhatikannya dari luar kelas pun ikut senang dengan keceriaan Sasha yang kembali lagi seperti duli dan menjalankan hidup dengan ceria tanpa beban.
            Sejak saat itu, Sasha kembali beraktifitas seperti dulu dan mulai kembali meneruskan hobinya menulis novel yang dulu sempat ia buang dalam niatnya. Sekarang ia sudah tidak terlalu mempermasalahkan status orang tuanya yang sudah bercerai. Ia sangat senang karena ia masih mempunyai orang tua yang sangat menyayanginya. Yang terpenting dalam kehidupannya sekarang ialah menjadi orang yang sukses untuk masa depannya. Ia sangat ingin sekali menjadi penulis novel terkenal dan ingin selalu memotivasi orang-orang yang sedang dalam masalah. Selain itu, ia pun bercita-cita untuk menjadi seorang desainer terkenal. Tak ada yang mustahil selama berusaha. Jangan sia-siakan hidup dengan beban masalah. Segalanya pasti memiliki hikmah dan jalan keluar dalam sebuah masalah selama orang itu mau berusaha.

~END~